Showing posts with label Movie. Show all posts
Showing posts with label Movie. Show all posts

Life as We Know It: Dari Benci Menjadi Sayang


Kita mungkin tak pernah bisa memilih untuk siapa kita mencintai atau kepada siapa kita memberikan sayang. Rasa cinta dan sayang seperti tumbuh dengan sendirinya. Film komedi romantis 'Life as We Know It' memberikan gambaran mengenai bagaimana cinta dan sayang bisa tumbuh secara alami. Tumbuh karena kesamaan nasib.

Dua lajang, Holly (Katherine Heighl) dan Messer (Josh Duhamel), awalnya dipertemukan dalam sebuah blind date atau kencan buta. Keduanya seperti tertarik satu sama lain, karena memang Holly cantik dan Messer tampan lagi atletis.

Tapi kencan mereka tak berjalan dengan mulus karena Holly tak suka dengan sikap Messer yang dinilainya cabul. Keduanya berpisah tapi tetap mengenal satu sama lain. Kebetulan Holly dan Messer memiliki sahabat suami istri, Peter Novack (Hayes MacArthur) dan Alison Novack (Christina Hendricks).

Peter dan Alison baru saja dikaruniai bayi kecil yang lucu, Sophie. Bersama dengan Holly dan Messer, pasangan tersebut merawat Sophie dengan penuh kegembiraan.

Sayangnya Peter dan Alison tak bisa lama-lama merasakan kebahagiaan merawat buah hati mereka. Keduanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Mendiang Peter dan Alison pun meninggalkan wasiat untuk Holly.

Apa isinya? Meminta tolong Holly dan Messer untuk membesarkan dan merawat Sophie. Holly dan Messer pun dibuat kaget bukan kepalang. Sejak gagal melakoni kencan pertama mereka, Holly dan Messer selalu bertengkar, kebanyakan karena hal-hal yang sepele.

Lalu akankah keduanya berhasil membesarkan Sophie yang yatim piatu? Bagaiman Holly dan Messer mengatasi ketidaksesuaian di antara keduanya?

Film besutan sutradara Greg Berlanti ini dinilai cukup menghibur. Akting Katherine Heighl dan Josh Duhamel patut diacungi jempol. Begitupula pemain pendukung yang lain. Ceritanya menghibur, ada sisi humoris yang menggelitik. Tapi juga bisa menyentuh perasaan.

Film 'Life as We Know It' cocok untuk pasangan yang baru saja menjalin cinta atau menikah. Maupun bagi Anda yang sedang berusaha menggaet si 'Dia'.
Read More......

Eat Pray Love


Beberapa waktu lalu saya hadir ke pemutaran perdana Eat Pray Love di Epicentrum Walk, Jakarta. Saya pikir itu hanya acara biasa yang dihadiri beberapa wartawan. Namun sesampainya di lokasi, saya disambut oleh sederet umbul-umbul dan poster besar Eat Pray Love, lengkap dengan sederet petugas keamanan berbedil panjang. Beberapa memakai seragam bertuliskan 'Paspampres'.

Masuk ke dalam, rasanya seperti acara Hollywood. Well, saya belum pernah ke Hollywood sih, tapi di pintu masuk Epicentrum XXI saat itu digelar karpet merah. Puluhan juru foto berdiri di sekitarnya, menunggu pesohor yang bisa dibidik. Di sebelah kanan, para pemain gamelan Bali mengalunkan musik tradisional, dan sejumlah penari Bali bersiap-siap tampil. Di kiri ada beberapa meja berisi makanan, minuman, dan wine, yang bisa dicicipi oleh para pengunjung.

Wah. Mau nonton di bioskop aja kok acaranya heboh banget?

Tak lama setelah pikiran itu terlontar di otak saya, mulailah satu persatu sosok "penting" berjalan melewati karpet merah. Bukan, bukan selebriti. Memang terlihat ada beberapa aktor dan aktris seperti Chelsea Olivia, Ririn Dwi Ariyanti, dan Hadi Subiyanto (salah satu pemeran Eat Pray Love). Tapi yang saya maksud di sini adalah "selebriti" jenis lain. Lebih tepatnya pejabat negara.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik adalah salah satu yang terlebih dulu menarik perhatian para juru foto. Disusul kemudian oleh Menteri Kesehatan Endang Rahayu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, dan istri wakil presiden Ny. Herawati Boediono.

Mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah, film asing yang diproduksi oleh Amerika Serikat mendapat perlakuan begitu istimewa di negeri ini. Bahkan sepertinya, film lokal pun tak ada yang mendapat sambutan semeriah ini. Berlebihan? Bisa jadi. Tapi jujur aja, saya sebetulnya tidak keberatan.

Film yang diangkat dari buku (yang ditulis berdasarkan kisah nyata seorang penulis bernama Elizabeth Gilbert) ini menitikberatkan ceritanya pada lokasi. Italia, India, dan Indonesia. Bukan sekadar setting film, tapi memang memiliki makna khusus, seperti yang tertulis di judul: EAT (makan, di Italia yang terkenal dengan kekayaan kulinernya) PRAY(berdoa, mengasah jiwa spiritual dengan meditasi dan yoga di India) LOVE (mencari cinta, di tempat yang indah dan penuh cinta yaitu Bali, Indonesia).

Wajar kalau dari jauh-jauh hari saat film ini masih dalam proses syuting, penduduk Indonesia sudah antusias ini segera menonton Eat Pray Love demi melihat Bali. Warga Italia dan India mungkin tak seheboh ini menanggapi Eat Pray Love karena toh sudah ada puluhan film Hollywood yang menggambarkan kedua negara tersebut. Tapi Indonesia? Jarang. Kalaupun ada, porsinya tak terlalu banyak. Sedangkan di film ini, nyaris separuh film disyut di Bali.

Lalu apakah penggambaran Indonesia di film ini sesuai dengan yang diharapkan? Well,sebetulnya yang diekspos di Eat Pray Love hanya Bali, bukan Indonesia. Karakteristik budaya dan adatnya pun sama sekali tak disentuh. 'Identitas' Bali di film ini hanya bisa kita lihat di pemandangan alam Bali yang cantik (pantai, pegunungan, sawah), bangunan dan gapura khas Bali beserta ornamennya (kain khas Bali, sesajen, umbul-umbul, janur, perempuan berbaju tradisional), dan wajah-wajah Melayu yang familiar (salah satunya Christine Hakim).

Bahasa Indonesia pun hampir tak pernah terdengar diucapkan di film ini, kecuali tentu saja 'terima kasih'.

Saya tak akan membahas resensi dan jalan cerita film ini, terlebih mungkin Anda sudah membaca bukunya. Namun saya yakin, meskipun film ini mendapat review yang kurang bagus, penonton Indonesia akan tetap membeli karcis bioskop demi melihat 'Indonesia produksi Hollywood' ini. Dan saya juga yakin, jalan cerita menjadi tak lagi penting saat Anda sudah duduk di kursi studio dan film dibuka dengan gambar pemandangan sawah Ubud, diiringi musik khas gamelan Bali. Yang ada hanya rasa bangga, dan sedikit haru. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Penasaran? Silakan tonton sendiri. Eat Pray Love diputar di bioskop Indonesia mulai Rabu, 13 Oktober 2010.

Read More......